Bahkan elektabilitasnya sempat melampaui Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Namun, kenaikan elektabilitas Ganjar tidak alami sebagaimana Jokowi.
Elektabilitas Ganjar besar di Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur. Sementara di luar dua wilayah ini, elektabilitas Ganjar tidak berkembang dan sepertinya terkunci.
Ganjar punya tiga kelemahan. Pertama, tidak cukup kontens berupa prestasi. Hasil kerja Ganjar tak begitu tampak dan sepi penghargaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kampanye Ganjar lebih dominan berupa gimmick. Dalam pertarungan jangka panjang, mengandalkan gimmick itu lemah. Rakyat juga akan bosen dan jenuh jika terus menerus disuguhi gimmick.
Kedua, tidak ada peristiwa besar yang mengangkat nama Ganjar. Beda dengan Jokowi yang memiliki gagasan mobil Esemka, dan menyelamatkan pasar klewer dari rencana penggusuran untuk dijadikan mall.
Dua hal ini mendongkrak nama Jokowi ke pentas politik nasional. Karena dua peristiwa besar inilah Jokowi mulus ke Balaikota Jakarta dan kemudian ke istana negara. Dan Ganjar tidak memiliki ini.
Peristiwa yang muncul dan populer justru “penggusuran di Wadas”. Ini menjadi faktor ketiga yang sama sekali tidak menguntungkan bagi Ganjar.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
Saat ini, elektabilitas Ganjar stagnan, malah cenderung turun. Salah satu faktor turunnya elektabilitas Ganjar karena kasus Wadas di Purworejo tersebut.
Selain Wadas, isu E-KTP juga bisa menjadi faktor penghambat elektabilitas Ganjar.
Lepas Ganjar secara hukum terlibat atau tidak, kasus ini diangkat lagi atau tidak oleh KPK, tapi publik terlanjur membaca adanya nama Ganjar di kasus tersebut.
Baca Juga:
SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia
CGTN: 75 Tahun Xizang: Harmoni Pembangunan dan Pelestarian Budaya Ciptakan “Keajaiban di Atap Dunia”
ZTE Rilis Laporan Keberlanjutan 2025, Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat AI
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








