AMDI Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2022, Organisasi Pers Lain Usulkan Ubah Tanggal Ultah

- Pewarta

Rabu, 9 Februari 2022 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) SS Budi Raharjo MM dan para pengurus AMDI. (Dok. AMDI)

Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) SS Budi Raharjo MM dan para pengurus AMDI. (Dok. AMDI)

HALLO PRESIDEN – Organisasi Pers lain semacam AJI dan IJTI, tak ingin ultah pers dirayakan di 9 Februari.

Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) mengucapkan selamat, bagi yang merayakan peringatan HPN 2022.

Kenapa organisasi lain, usul perubahan?

Mereka beralasan, peringatan HPN pada 9 Februari disebut merupakan tradisi sejak Orde Baru yang tak banyak perubahan setiap tahunnya.

HPN, berbarengan hari lahir PWI, Persatuan Wartawan Indonesia.

Kita semua tahu, PWI berdiri pada 9 Februari 1946 telah menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia. 

Mereka orang-orang pergerakan yang kemudian jadi wartawan bersatu bentuk organisasi yang berlaku seluruh Indonesia.

Ini yang membuat organisasi lain, merasa HPN hanya pesta orang-orang PWI, sementara organisasi lain semacam IJTI dan AJI merasa anak tiri.

Pelaksanaan even HPN menurut organisasi AJI Aliansi Jurnalis Independen dan Ikatan Jurnalis Televisis Indonesia, secara substansi tidak memberikan kontribusi yang besar bagi kehidupan pers di Indonesia.

Selain itu lebih banyak menghambur-hamburkan uang rakyat untuk acara seremonial yang megah.

Tidak ada kontribusi yang berarti bagi peningkatan mutu jurnalisme di Indonesia baik menyangkut kekebasan pers, perlindungan terhadap jurnalis, serta kesejahteraan pekerja pers itu sendiri.

Usul mereka, peringatan HPN adalah 23 September sesuai tanggal pengesahan UU Pers.

Ini adalah hari pengesahan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yaitu 23 September, sebagai Hari Pers Nasional.

Usul lain, peringatan HPN didasarkan pada tanggal kelahiran Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional.

Apa Sikap AMDI untuk Hari Pers

AMDI (Asosiasi Media Digital Indonesia)  sebagai Asosiasi Pemilik Media Digital, Forum Pimpinan Media Digital Indonesia bukan masuk dalam perubahan tanggal ulang tahun.

Tapi  dalam rilisnya menyebut, kiranya, sahabat jurnalis, manajemen media bukan hanya sibuk sebatas keriaan tanpa refleksi diri.

Di era digital marketing, media massa harus bersaing memperebutkan kue iklan yang “lari” ke media sosial, blogger dan Youtuber.  Ini bisa disebut senjakala media massa, mau apa itu cetak, digital bahkan televisi.

Presiden Jokowi yanng hadir secara virtual dalam Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 pada Rabu (9/2).

Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) mengingatkan rekan pers dan konstituen Hari Pers Nasional (HPN) yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Bahwa, ada yang lebih penting di saat ini, selain membuat Twibbon atau rangkaian kegiatan HPN 2022.

Masukan dari AMDI adalah, untuk anggota Dewan Pers periode 2022-2027 yang nanti terpilih, bisa lebih maju pemikirannya.

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Tak lagi, berkutat tenggelam memverifikasi, setiap media massa yang ingin didata oleh Dewan Pers.

Dewan Pers mendatang perlu lebih proaktif mendata. Pers berbadan hukum dengan penanggng jawab yang bekerja profesional atau hanya jurnalisme partisan.

Sejatinya, media dan tren teknologi sudah berlari meninggalkan hal-hal “lawas” semacam itu. Dari 4.300 media online (siber), paling yang sudah diverifikasi 600-an saja. Bukan berarti, hanya jumlah itu yang disebut media profesional.

Media digital yang belum diverifikasi Dewan Pers, banyak yang menerapkan kode etik jurnalistik dengan baik. Mereka sudah layak disebut pers.

Terlepas, apakah aturan itu perlu diperbaharui atau tidak, sesungguhnya media cetak, radio dan televisi memasuki wajah baru.

Idealnya, tugas pers mengembangkan visi dan misi yang futuristik. Melampaui jaman kekinian, memang tak mudah.

Bukan hanya tampilan dan model jurnalisme, cara bertahan mencari pemasukan untuk menyeimbangkan pengeluaran, yang terlanjur besar juga merupakan tantangan tersendiri.

Media massa melakukan strategi reposisi merek, distribusi, promosi termasuk sumber daya manusia yang disebut profesional.

Realitasnya, bisnis model media di revolusi teknologi, justru ter-disrupsi dalam pemasukan pendapatan.

Semua terjadi dengan kecepatan dan kompleksitas. Teknologi 4.0 telah mengubah manusia dalam mengkonsumsi media.

Jutaan berita dan informasi masuk ke medsos, menyebar dari satu grup ke grup media lain. Tim buzzer media, yang lebih menikmati untung saat ini.

Jurnalis media digital bukan pintar di dunia jurnalistik saja, tapi harus belajar dari “misteri” SEO (Search Engine Optimization), kata kunci, hastag, dan lain-lain, agar tulisannya di-klik banyak orang.

Tulisan tersebut di posting ke grup-grup media sosial yang punya fans, banyak anggotanya. Pasalnya, ponsel pintar memberikan kenyamanan dalam melihat berita, serba gratis pula.

Di tengah banjir informasi, media massa mainstream (cetak) menjadi clearing house — tempat orang mengecek informasi benar.

Apa lacur, banyak pemasang iklan bisnis, malah mengalihkan belanja iklannya ke medsos, bukan ke media digital.

Padahal, media massa sudah woro-woro ikut memasuki konvergensi media.

Vlog hingga channel di TV digital dengan server pinjam atau titip ke Youtube, lebih diminati.

Pemirsanya, kalau dengan tim buzzer bisa memiliki pemirsa hingga jutaan.

Dimana ada Youtubers, yang satu miliar video views per harinya. Ada empat juta foto per jam yang diunggah di Instagram.

Facebook menyebutkan setidaknya ada tiga miliar likes & comment yang mereka dapatkan setiap harinya dan 15 juta foto yang di-upload per jam.

Arus informasi mengalir sangat deras. Facebook malah panen iklan, demikian Google.

Sekarang, publik adalah media! Dan kita, adalah jurnalis.

Jurnalis kalah cepat dengan masyarakat, dalam meliput kejadian, banyak contohnya.

Bahkan, sekedar media massa, untuk hidup bukan lagi menulis karya jurnalistik, tapi menulis primbon, ramalan bintang atau mengutip IG bintang ternama, untuk hemat ongkos.

Riset Visa bertajuk Consumer Payment Attitudes Study menyebutkan, orang Indonesia menghabiskan 6,4 jam sehari di smartphone atau 25%-an dalam keseharian mereka. Sekitar tiga jam hanya untuk urusan media sosial.

Bisa diartikan, masyarakat kita lebih sibuk dengan akun media sosial ketimbang menaruh perhatian pada media mainstream yang menawarkan trust dan kredibilitas.

Di era digital marketing, media massa harus bersaing memperebutkan kue iklan yang “lari” ke media sosial, blogger dan Youtuber. Ini bisa disebut senjakala media massa digital.

Tidak salah jika saat ini sebagaimana Richard Edelman, CEO Edelman, menjelaskan bahwa: every organization is a media organization!

Era digital membuat semua bisa memiliki media sendiri, termasuk perusahaan.

Cukup membuat website, mempekerjakan tiga-empat orang, membuat konten, dan mempublikasikannya.

Bahkan, search engines dan social network bisa menjangkau audiens secara langsung. Sesuai target readers-nya.

Kita juga memasuki, era kecerdasan artifisial. Era Kecerdasan Artifisial, apa itu?

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau bisa disebut juga intelegensi artifisial.

Artificial Intelligence atau hanya disingkat AI, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah.

Dalam teknologi AI, perancang atau yang membuat berita bisa saja dilakukan oleh mesin saat ini.

Jadi, di tahun-tahun mendatang, kita tidak lagi hanya bertanya apa yang benar atau hoax. Pertanyaan berikut, apakah informasi itu dihasilkan oleh manusia?

Karena bisa saja, berita itu yang membuat adalah mesin, dengan coding atau sari dari ragam medsos atau dicuplik dari media arus utama, tanpa klarifikasi jurnalistik.

Metafora jenis konvergensi antara dunia nyata dan dunia digital.

Eng-ing-eng. Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) pernah melakukan survei internal, terhadap para pemimpin media.

Hasilnya menunjukkan, bahwa yang dianggap ancaman, bukan lagi sesama media massa, tapi kekuatan platform semacam Google, Youtube atau Facebook yang menyedot potensi belanja iklan.

Di tengah banyak media massa kesulitan membayar kesejahteraan SDM-nya dengan layak, aplikasi digital memudahkan setiap orang memiliki media massa sendiri.

Perusahaan yang paling cerdas akan menggabungkan data dan algoritma dengan konten hebat.

Tak pelak, pers Indonesia, apapun platform-nya, mau tak mau harus berkolaborasi dengan Google, Twitter, atau Instagram, Facebook hingga memiliki tim buzzer di medsos.

AMDI berupaya terus mengedukasi anggotanya, dalam era digital sekarang ini. Inovasi mutlak bagi media arus utama agar bertahan.

Karena sesungguhnya, publik masih membutuhkan informasi dan konten bermutu.

Catatan hingga di HPN 2022 ini, Dewan Pers disebut belum kerja optimal dalam memverifikasi media digital.

Kiranya, sembilan nama anggota Dewan Pers periode 2022-2027, lebih inovatif dan punya terobosan. Salam erat.

Asosiasi Media Digital Indonesia dan Forum Pimpinan Media Digital Indonesia, yang merupakan organisasi pemilik media digital di Indonesia.

Oleh: SS Budi Raharjo MM, Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).***

Berita Terkait

Promosi Video Youtube di Portal Berita? BISA, Hanya dengan Budget Rp500 Ribu Bisa Langsung Tayang di Sini
Siap Menangkan Prabowo – Gibran, Berikut Susunan Tim Kampanye Koalisi Indonesia Maju yang Super Lengkap
KABAR BAIK UNTUK EMITEN: Publikasi Press Release Serentak di 10 Portal Berita Ekonomi Bisnis Hanya Rp3 Juta
DIJUAL MEDIA ONLINE: Nama Domain yang Cantik dengan Harga Super Menarik, dan Media Masih Berjalan
Jasasiaranpers.com Kolaborasi dengan Portal Berita, Dukung Press Release Serentak dan Press Release Setiap Hari
TARIF IKLAN dan BIAYA PUBLIKASI di Jaringan Portal Berita Fokus Siber Media Network dan Media Online Ini
Kelola Lebih dari 50 Media Online, FSMN Layani Jasa Content Placement dan Publikasi Press Release
The Electoral: Solusi Efektif dan Profesional untuk Kampanye Caleg di Pemilihan Umum 2024
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:34 WIB

Prabowo Sebut Sekali Senior Tetap Senior Saat Sowan dan Terima Kasih ke SBY, Usai Unggul Pilpres

Kamis, 15 Februari 2024 - 14:05 WIB

Nyatakan Siap Perkuat Hubungan Bilateral, Perdana Menteri Ceko Beri Ucapan Selamat kepada Prabowo – Gibran

Kamis, 15 Februari 2024 - 10:25 WIB

Prabowo Subianto Pidato Usai Unggul dalam Berbagai Quick Count: Kemenangan Satu Putaran Patut Disyukuri

Kamis, 15 Februari 2024 - 07:54 WIB

Prabowo – Gibran Unggul Sementara Berdasarkan Quick Count Sejumlah Lembaga Survei Terkemuka

Rabu, 14 Februari 2024 - 16:53 WIB

Apakah Bobby Jadi Pindah ke Istana? Ini Jawaban Prabowo Subianto Soal Nasib Kucing Kesayangannya

Senin, 12 Februari 2024 - 14:06 WIB

Tanggapi Beredarnya Film Dokumenter ‘Dirty Vote’, TKN Prabowo – Gibran: Tujuannya untuk Degradasi Pemilu 2024

Sabtu, 10 Februari 2024 - 09:37 WIB

Momen Capres Prabowo Subianto Mohon Izin ke Kiai, Sebelum Joget di Panggung di Sidoarjo, Jawa Timur

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:11 WIB

Sanksi DKPP Terhadap Para Pimpinan KPU Tak Berdampak Apapun kepada Pasangan Prabowo – Gibran

Berita Terbaru